Senin, November 10, 2008

Saatnya Bangsa Indonesia Merevolusi Jiwa

Oleh : Budi Praptono

Sudah saatnya kita “merevolusi jiwa” dengan kembali kepada nilai-nilai kejujuran, nialai-nilai Iman, nilai –nilai kemandirian,nilai-nilai kesederhanaan,nilai-nilai- sosial………..…

Sesungguhnya, tidak bisa, saya ungkapkan dalam kata-kata, betapa bahagianya, betapa terharunya, perasaan hari ini, ternyata masih ada teman yang mau diajak, yang walaupun tidak banyak, masih mau dan bersemangat memikirkan nasib negara dan bangsa tercinta ini.
Beberapa bulan lalu, kami diajak mas Radhar, senior saya! bersama-sama dengan elemen aktivis yang lain, untuk memikirkan nasib perkembangan negara dan bangsa ini, akhirnya sepakat membentuk Forum Aktivis Bandung (FAB), untuk mewadahi dan merajut pelita-pelita yang sudah mulai redup.

Sejak saat itu, semangat saya serasa ada doping baru, tambah menggelora kembali, inget seperti dulu masih mahasiswa yang kepalanya dibotaki habis OSPEK!
Beberapa waktu lalu saya mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Iran Ahmadinejad, lewat kedutaan besar Iran di Jakarta, dan saya tembuskan ke beberapa media.
Kenapa saya berkirim surat kepada Dinejad? Terus terang itu adalah betuk apresiasi saya terhadap presiden Iran yang punya sikap luar biasa untuk saat ini.
Kekaguman saya, berjuta-juta masyarakat Iran dan Indonesia kepada Ahmadinejad Presiden Iran yang dikenal sederhana dan berani, lebih bersifat rindu-rindu tapi malu; Atau bahkan takut atau berat untuk mengikutinya.
Rindu artinya kita sangat rindu terhadap keberanian dan ketegasan Presiden Ahmadinejad menghadapi Amerika Serikat dan imprealis barat yang memang zalim. Rindu kita kepada Ahmadinejad karena kecerdasan Intelektual berdasarkan landasan buah Tauhid (keadilan, nilai-nilai kemanusiaan, dan kasih sayang), kesederhanaan dia, dan kemandiriannya.
Malu artinya kita masih sangat malu dan bahkan sangat takut atau berat untuk mencontoh berlaku hidup adil, menahan diri dari nafsu, bersikap bersahaja (sederhana) sebagaimana perilaku Presiden Ahmadinejad. Takut eksistensi kita di mata masyarakat jatuh dan terpuruk karena sesungguhnya perilaku kita masih suka menilai sebuah keberhasilan itu dari gemerlapnya perolehan duniawi. Sebuah keadaan peradaban di negeri kita yang kontradiksi dengan prinsip dan perilaku sang Presiden Iran.
Yang jadi pertanyaan kapan kita akan memulai perubahan peradaban dunia ini sebagaimana yang telah dimulai seorang anak tukang pandai besi di Iran?. Apa betul, yang dibenci atau dilawan seorang Ahmadinejad adalah Negara Amerikanya atau sekutunya? Apa bukan yang lainnya?
Kegaguman saya kepada Ahmadinejad bukan karena program nuklirnya yang membuat heboh dunia! Tetapi lebih kepada kepiawaiannya memilih pola hidup sederhana, keberpihakan terhadap kaum dhuafa, dan tegas terhadap pihak yang memaksakan kehendak terhadap bangsa dan negaranya, tegas memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kebersamaan, dan kesederajadan terhadap pihak lain. Sesungguhnya nilai-nilai inilah merupakan milik semua agama, termasuk mayoritas masyarakat dari negara-negara yang lagi berseberangan dengan Ahmadinejad.
Sesungguhnya yang ditakuti musuh kita adalah kesederhanaan dan kemandirian. Musuh kita akan dengan mudah menguasai negara berkembang yang pola hidupnya konsumtif dan bermewah-mewahan. Akibat dari pola tersebut akhirnya muncul kebiasaan korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga sangat wajar kalau akhirnya negara dibebani hutang luar negeri yang besar. Ujung-ujungnya negara berkembang tersebut akan sangat bergantung kepada sang pemaksa atau neoimprealis.
Jangan harap Sebuah negara berkembang bisa keluar dari jerat sistem kapitalis atau imperialis; Selagi negara tersebut gemar berhutang, asyik dengan pola hidup mewah, mengedepankan budaya konsumerisme, konsumtivisme, yang akibatnya hidup jauh dari kesederhanaan dan keadilan .
Pertanyaannya Kapan Indonesia Bangkit?
Sebagai bangsa timur yang beradab, yang selayaknya memimpin peradaban dunia?!. Bukankah kita lebih senang hidup Mandiri merdeka, tidak dijajah, tidak bergantung kepada segelintir bangsa yang yang mempunyai kekuasaan modal (kapital)?
Bukankah kita adalah bangsa yang berdaulat dan berbhinneka. Bebas menentukan pikiran dan peradaban budaya kita sendiri tanpa harus menjadi bangsa lain dan menjadi sasaran Intervensi bangsa-bangsa lain tersebut?
Mandiri, bukan berarti harus mengisolasi diri. Tetapi kapan kerja sama atau tidak. Dengan siapa kita harus bekerja sama, adalah semata-mata karena atas dasar saling menghormati, saling memberikan manfaat, bukan atas dasar karena ketidaksadaran atau karena keterpaksaan.
Karena sejatinya, Ahmadinejad selalu menanti munculnya sahabatnya dari Bumi Pertiwi Indonesia yang tercinta ini. Yang mempunyai semangat juang untuk memujudkan tata peradaban dunia baru yang lebih adil, saling menghormati, berpikiran ke depan, dengan semangat hanya semata-mata karena menjalankan perintah Tuhan untuk mensejahterakan alam semesta tercinta ini.
Di samping itu sahabat yang juga masih jadi orang Indonesia, yang bukan sahabat yang ingin jadi orang Iran, Arab, India, Jepang, Amerika, China, India, dan sebagainya.
Kapan akan muncul tokoh hebat dari Bumi Pertiwi Indonesia tercinta? Jawabannya adalah ada yang mau memulai atau tidak. Mengenai kapannya biarlah sejarah yang akan menjawabnya, dan ini adalah tanggung jawab kita semua anak bangsa dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.
Bukan semangat mengedepankan perbedaan, bukan semangat yang pingin menang sendiri. Tetapi, semangat yang mengedepankan kesamaan, tidak peduli agamanya, warna kulitnya, bahasanya, yakni yang sama-sama membangun Indonesia tercinta, adil dan makmur, sebagaimana yang diamanahkan dalam dasar negara kita.
Mari kita akhiri mempermasalahkan perbedaan yang tidak prinsip. Biarlah perbedaan itu menjadi urusan masing-masing. Kita rajut sisi kesamaan untuk membangun Indonesia tercinta ini. Semangat saling bantu-membantu sebagaimana yang telah diikrarkan pada saat Sumpah Pemuda pada tahun 1928, dan terkristalisasi pada falsafah dasar negara kita yakni Pancasila.
Kita harus berani bermimpi Indonesia akan menjadi pusat peradaban tata dunia baru, yang mengusung nilai-nilai luhur, yang mengedepankan nilai-nilai spiritual, yang bukan mengedepankan senjata. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh bangsa beradab di seluruh jagat raya ini.
Spiritual yang seperti apa?
Dalam pandangan saya, sekarang ini orang kelihatan trend beragama itu kesannya masih mengarah kepada kegenitan beragama, tidak mengarah kepada peningkatan ruh, spiritual, yang masih malu atau takut berbicara sosialisme. Sesungguhnya, kalau kita merasa bergama tapi tidak sosialis sebenarnya diragukan keberagamaannya. Padahal Sosialisme itu inti pokok dari ajaran agama, tetapi sosialisme yang tidak pilih kasih terhadap kelompok atau golongan tertentu.
Dimana tanggung jawab kaum muda? Adalah harus menjadi pemain utama dan di depan dalam perjuangan ini!
Kaum muda bukan hanya fisiknya saja, tapi memiliki semangat mencari jati diri, semangat kebebasan, kemerdekaan jiwa didalam berekspresi dalam memperjuangan nilai kebenaran, kebersamaan, keadilan, dan nilai-nilai lainnya untuk memujudkan kehidupan yang lebih beradab.
Apakah orang yang berusia tua bisa masuk kategori kaum muda? Jawabanya Ya. Orang yang berusia tua kalau mempunyai semangat yang dinamis menuju perubahan, itu sesungguhnya berjiwa muda!
Krisis Dunia (AS) dan Indonesia
Krisis ekonomi dunia (AS) yang menimpa saat ini sungguh diluar akal sehat.Bagaimana bisa terjadi amerika yang banyak orang - orang pintar secara intelektual, orang-orang berkuasa, akhirnya menjelang ambruk. Begitu juga dengan Indonesia, keadaan semakin tidak menentu. Saya yakin peradaban yang dibangun hanya oleh kekuatan intelektual tanpa kekuatan spiritual yang kuat dipastikan mudah roboh dan keropos?
Runtuhnya Fir’aun oleh Nabi Musa, bukan karena Musa itu Profesor, Musa bukan Doktor, Tapi oleh Iman, oleh kejujuran, kepasrahan musa kepada Tuhan, dan tekad kuat Musalah sehingga atas kuasa Tuhan Fir’aun Hancur.
Begitu juga dengan runtuhnya Kaum Jahiliyah oleh karena kepasrahan dan ketauhidan dan kejujuran Nabi Muhammad SAW dimata Tuhan dan Dimata Manusia yang menerima pencerahan jiwa. Nabi memberi contoh, kita harus berjuang tanpa kenal menyerah dan tidak ada kompromi terhadap kesewenang-wenangan sifat Jahiliyah dan penjajahan jiwa.
Pertanyaannya akankah kita diam dan hanya menunggu, menunggu lahirnya tokoh-tokoh perubahan peradaban dunia? Menunggu yang namanya Ratu Adil?
Dari mana kita mulai dan siapa, kapan?
Dari diri kita dan sekarang! Bukan kerjanya hanya menunggu datangnya ratu adil, yang seolah-olah kita ini tanpa ada beban punya tanggung jawab untuk melakoni semangat ratu adil; padahal yang sesungguhnya tugas untuk menjadi ratu adil, adalah tugas seluruh umat manusia, dalam kapasitasnya masing-masing.
Sudah saatnya kita “merevolusi jiwa” dengan kembali kepada nilai-nilai kejujuran, nialai-nilai Iman, nilai –nilai kemandirian, nilai-nilai- sosial yang berkeadilan agar bangsa Indoensia dapat menjadi mercusuar peradaban baru dunia, setelah krisis global yang menimpa bangsa-bangsa Fir’aun ini. Tanpa kita berdikari dan mempunyai percaya diri yang kuat bangsa kita mustahil dapat berubah dari keterpurukan dan akan selalu menjadi sapi perahan bangsa lain.
Hari ini 28 Oktober 2008 saatnya bangsa Indonesia merdeka dan mulai melakukan revolusi dalam arti yang sesungguhnya, yakni revolusi jiwa!
Jangan, kau tanyakan : Apa yang negara dan bangsa berikan kepada ku! Tapi tanyakan : Apa yang bisa kuberikan terhadap kemakmuran negara dan bangsaku!
Kami sadar, bahwa ini semua membutuhkan perjuangan yang tidak ringan dan panjang, perlu pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan secara akal sehat terasa sangat tidak mungkin! Tetapi Yakinlah, Apa yang tidak mungkin menurut Tuhan? semua bisa saja terjadi, yang menurut akal manusia, sangat atau bahkan tidak mungkin terjadi.
Sekali lagi, semua bisa terjadi! Selama masih ada manusia yang yakin seyakin-yakinnya. Yakin yang bukan sekedar ”lamis”, tetapi bener-bener tunduk patuh dalam rangka mencari semata-mata RidhoNYA saja! Amien!
Siapa? Adalah KITA! Sudah Saatnya yang muda yang menjadi pemimipin perubahan! Kalau, saya tidak malu, sebenarnya saya mau menangis terharu, bahwa semangat dan langkah perjuangan kita, sangat-sangat ditunggu-tunggu berjuta-juta rakyat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya! Hilang rasa ragu-ragu, was-was, yakinlah bahwa Tuhan selalu bersama kita.
Semoga perjuangan kita selalui dalam RidhoNYA!
Mari kita buat para pendahulu kita tersenyum lega, termasuk Bung Karno yang bercita-cita Indonesia menjadi Mercusuarnya Dunia, dengan perjuangan panjang beliau semua, telah mengantarkan kepada pintu gerbang kemerdekaan, maka dengan semangat sumpah pemuda, kita isi nilai-nilai kemerdekaan, dengan semangat “Revolusi Jiwa” untuk menjadikan Indonesia menjadi pusat peradaban dunia!
Sanggup? Sanggup? Merdeka, Merdeka, merdeka!

Budi Praptono, Ketua Forum Komunikasi Sosial Masyarakat (FKSM) Merah Putih Bersatu. Dan Badan Musyawarah Anggota (Pendiri) Forum Aktivis Bandung (FAB)(diambil dari opini masyarakat.com)

Tidak ada komentar: