BUMI Halmahera memang benar-benar menggiurkan bagi dunia pertambangan. Pasalnya setelah PT Weda By Nickel berencana membangun pabriknya di Weda Halmahera Tengah, kini PT Antam Tbk, salah satu BUMN yang dimiliki pemerintah, berencana membangun pabrik pengolahan feronickel di Halmahera Timur. Rencana ini disampaikan terbuka dalam pemaparan dan perencanaan pembangunan yang disampaikan pihak PT Antam Tbk di depan jajaran Dewan Kabupaten dan Pemkab Haltim di Hotel Mandarin Oreintal Jakarta.
Wartawan Malut Post, Mahmud Ici melaporkan dari Jakarta, dalam pemaparan tersebut, PT Antam melalui Tato Miraza Kepala Proyek Pengembangan Nickel menjelaskan detail rencana tersebut.
Dijelaskannya, rencana pembangunan yang bekerjasama dengan perusahaan tambang Australia dibawah bendera BHP BILLITON itu akan menginvestasikan dana kurang lebih antara 750 juta US dollar hingga 1 miliar US dolar, yang bila dikonversi ke dalam rupiah mencapai Rp 10 triliun. Tato mengaku rencana pembangunan pabrik ini, merupakan pabrik nickel terpadu, dengan menggunakan standar dunia. Bahkan kata Tato, kegiatan PT Antam di Haltim ini nantinya akan menjadi perusahaan terbesar didunia dengan kapasitas produksi per tahun mencapai 100 ribu ton nickel. “Dengan investasi yang begitu besar tentunya akan menjadi lahan baru bagi pencipataan lapangan pekerjaan,” kata Tato.
Di depan Bupati Haltim Wilhelmus Tahalele dan unsure Muspida lainnya, PT Antam berjanji menjadikan Haltim sebagai mesin pertumbuhan baru dibidang pertambangan di Indonesia Timur.
PT Antam yang didiirikan pada 1968 dan go public tahun 1997 memang saat ini masih orientasi nickel ekspor. Tetapi untuk Halmahera Timur, pembangunannya sudah pabrik ferronickel dan proyek hdirometalurgi. Bahkan Pulau Obi juga akan menjadi sasaran karena memang cadagan nikelnya cukup besar. “Untuk pembangunan pabrik di Haltim itu adalah rencana jangka panjang Antam dan sudah masuk dalam kitab Antam,” jelas Tato. Dalam kesempatan itu turut dijelaskan pusat pusat nickel yang dikenal dengan dengan sabuk nickel mulai Sulawesi, Maluku Utara hingga ke Papua.
Karena berbagai rencana itu pihak Antam juga juga membutuhkan pemerintah daerah sebagai partner untuk memaksmialkan sumberdaya yang ada. Partner itu katanya tidak hanya pemerintah tetapi juga menggunakan tenaga kerja yang terampil untuk mengelola secara baik sumberdaya yang ada. “Dengan partner itu resource itu akan dipakai secara maksimal,” cetusnya. Ditempat yang sama dijelaskan lagi prencanaan pabrik maupun berbagai resiko yang dihadapi. Termasuk proses alih tekhnologi yang memang tidak mudah. Karena itu dibutuhkan pula tenaga ahli.
Bahkan dalam penjelasan itu Antam sebagai perusahaan pemerintah dalam posisi aktif. dengan pemain global memimpikan pembangunan pabrik di Haltim itu seperti Petronas-nya Malaysia. Atas semua rencana itu, mereka meminta dukungan pemerintah daerah, diantaranya perlunya adanya perubahan areal dari semula hanya kuasa pertambangan (KP) menjadi kontrak karya (KK). “Antam membutuhkan perubahan dari legalitas hukum soal ijin tidak lagi dalam bentuk KP tetapi Kontrak Karya sehingga kerjsama dengan Billiton memiliki dasar hukum yang kuat,” kata Tato lagi.
Sementara untuk rencana 2007 ini juga dilakukan finalisasi agreement dengan BHP Billiton Australia . Dia juga turut memaparkan rencana studi pembangunan pabrik dilaksanakan sampai 2008 sekaligus persiapan pendanaan. Sementara konstruksi pabrik akan dilaksanakan kuartal ke IV 2009. Dan untuk star komercial direncanakan 20012 pada kuartal ke empat. Dengan kebutuhan tenaga kerja pengoperasian tekhnis pabrik 700 orang, dan diharapkan multi efek pengoperasionalnya antara 4 sampai lima kali dari jumlah tenaga kerja yang ada. Untuk fisibility study sendiri akan dilaksanakan 2011, termasuk memikrikan alih tekhnolgi yang digunakan untuk pengolahan pabrik ini yang paling moderen dengan resiko yang minim.
Usai pemaparan, Setdakab Haltim Musa Djamaludin mempertanyakan rencana pembangunan parbrik tersebut apakah tahap wacana ataukah sudah pada kesimpulan final. Sebab katanya selama ini kebanyakan yang dilakukan itu hanya dalam bentuk wacana.
Menanggapi hal ini, Direktur Umum dan SDM Ir Syahril Ika mengaku, jika rencana ini sudah final dan akan ditindaklanjuti. Sebab yang disampaikan itu merupakan rencana Antam kedepan. “Kita tidak pada tahap wacana lagi apalagi sudah ada pembicaraan dan pihak Billiton. Ini antar Negara. Kalau tahap wacana kan malu dong perusahaan pemerintah,”cetusnya.
Tampilkan postingan dengan label investasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label investasi. Tampilkan semua postingan
Selasa, Oktober 21, 2008
Maluku Utara Menanti Investor

PROVINSI Maluku Utara terletak di bagian utara Kepulauan Maluku ini sejak dahulu sudah terkenal kaya akan rempah-rempahnya bahkan sampai ke manca-negara. Dilihat dari letak geografisnya, di sebelah timur Provinsi Maluku Utara berbatasan langsung dengan Laut Halmahera, sebelah barat berbatasan dengan Laut Maluku, sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik dan sebelah selatan berbatasan dengan Laut Seram. Secara administratif provinsi ini terdiri dari 6 (enam) kabupaten dan 2 (dua) kota, yaitu Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Halmahera Timur dan Kabupaten Kepulauan Sula, Kota Tidore dan Kota Ternate yang sekaligus sebagai ibukota provinsi.
Luas wilayah provinsi ini 33.321,22 Km2 dengan jumlah penduduk sampai tahun 2007 sekitar 910.656 jiwa. Angka pertumbuhan penduduknya sebesar 0,04 %, dengan kepadatan penduduk mencapai 26,10 jiwa/Km2.
Total PDRB Provinsi Maluku Utara sebesar Rp. 2,23 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari sektor pertanian sebesar Rp. 792 miliar atau sekitar 35,4% dari total PDRB, disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp. 540 miliar (24,2%) dan sektor industri pengolahan sebesar Rp. 343 miliar (15,3%).
Nilai ekspor provinsi ini pada mencapai sekitar US$ 83,7 juta per tahun dengan kontribusi terbesar disumbang ekspor nikel sebesar US$ 51,7 juta, kayu lapis US$ 26,2 juta, kayu olahan US$ 4,5 juta, kayu gergaji US$ 897 ribu dan ekspor ikan tuna cakalang sejumlah US$ 296 ribu.
Provinsi ini memiliki unggulan untuk sub sektor perkebunan dan sub sektor perikanan. Komoditi unggulan dari sub sektor perkebunan adalah kakao dan kelapa dalam sedangkan komoditi unggulan dari sub sektor perikanan adalah perikanan tangkap.
Untuk menunjang kegiatan perekonomian provinsi ini, tersedia jalan darat sepanjang 2.706,27 km, 8 (delapan) pelabuhan laut yaitu Tobelo, Jailolo, Gebe, Buli, Babang, Sanana, Gita, dan A. Yani serta bandar udara sebanyak 12 (dua belas) yang tersebar di Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Kepulauan Sula, dan Ternate.
Secara geografis, Provinsi Maluku Utara berada pada 3 derajat Lintang Utara hingga 3 derajat Lintang Selatan dan 124 derajat hingga 129 derajat Bujur Timur. Wilayah ini dilintasi khatulistiwa, tepatnya di Halmahera Tengah, yang memberi efek penting pada pemanasan air laut yang bergerak dari Samudera Indonesia ke Pasifik.
Batas-batas yang mengitari wilayah Maluku Utara semuanya adalah laut. Sebelah timur berbatasan dengan Laut Halmahera. Sebelah barat dengan Laut Maluku. Sebelah utara ada Samudera Pasifik, dan sebelah selatan berbatasan dengan Laut Seram.
Secara topografis, wilayah Maluku Utara sebagian besar bergunung-gunung dan berbukit-bukit. Banyak dijumpai pulau-pulau vulkanis dan pulau karang, sedangkan sebagian lainnya merupakan dataran biasa.
Pulau Halmahera mempunyai banyak pegunungan yang rapat–mulai dari Teluk Kao, Teluk Buli, Teluk Weda, Teluk Payahe dan Dodinga. Di setiap daerah terdapat punggung gunung yang merapat ke pesisir, sedangkan pada daerah sekitar Teluk Buli (di timur) sampai Teluk Kao (di utara), pesisir barat mulai Teluk Jailolo ke utara dan Teluk Weda ke selatan dan utara ditemui daerah daratan yang luas. Pada bagian lainnya terdapat deretan pegunungan yang melandai dengan cepat ke arah pesisir. Pulau-pulau yang relatif sedang (Obi, Morotai, Taliabu, dan Bacan) umumnya memiliki dataran luas yang diselingi pegunungan yang bervariasi.
Karena sebagian besar Provinsi Maluku Utara, terutama bagian tengah dan utara, merupakan daerah pegunungan. Namun secara geologi bukanlah pegunungan yang seragam. Artinya, bahan penyusunnya bervariasi. Pegunungan yang mendominasi bagian utara dan timur laut Semenanjung Halmahera juga berbeda secara geologis.
Semenanjung utara disusun oleh formasi gunung api (andesit dan batuan beku basaltic). Pada semenanjung timur laut ditemukan batuan beku asam, basa dan ultrabasa serta batuan sediment. Daerah pegunungan yang ada merupakan bentangan lahan dengan puncak tajam dan punggung curah tertoreh serta lereng yang curam (>40%).
Di semenanjung utara Halmahera terdapat barisan gunung api aktif dan non-aktif dengan bentuk dan struktur yang sangat khas. Pada bagian ini dataran ailuval tidak ditemukan, tetapi memasuki daerah Kao, ditemukan dataran ailuval yang luas pada daerah pedalaman, juga dataran vulkanik yang berombak dan dataran ailuval berawa secara lokal.
Pada kedua semenanjung (baik utara maupun timur laut) daerah pegunungan itu masih dikelilingi oleh kawasan pegunungan dan perbukitan yang berkembang dari bahan yang sama. Pulau Morotai banyak memiliki kesamaan dengan Pulau Halmahera bagian utara, yang dicirikan oleh gunung-gunung yang berkembang dari batuan sediment dan batuan beku basa.
Pada semenanjung bagian selatan Halmahera lebih di dominasi oleh daerah gunung, terutama berkembang dari bahan-bahan sedimentasi batu napal dan batu gamping (marl dan limestone). Pada bagian ini terbentang dataran sempit ailuvial arah timur-barat.
Kawasan sepanjang pantai barat Halmahera terbentang sejumlah pulau besar dan kecil dimulai dari Ternate bagian utara sampai Obi bagian selatan. Pulau-pulau kecil di bagian utara umumnya merupakan daerah vulkanik yang tersusun dari bahan andesit dan batuan beku basaltic dengan lereng curam (30-45%) sampai curam (>45%).
Iklim wilayah Maluku Utara memang unik. Wilayah ini dipengaruhi oleh iklim laut tropis dan iklim musim. Oleh karena itu iklim di Maluku Utara sangat dipengaruhi oleh lautan (termasuk luas perairan) dan bervariasi antara tiap bagian wilayah. Dikenal ada empat daerah iklim; Halmahera Utara, Halmahera Tengah/Barat, Bacan dan Kepulauan Sula. Temperatur rata-rata tahunan yang diukur dari stasiun Duma Galela, Ternate dan Tobelo antara 25,6 derajat C – 26,1 derajat C dengan curah hujan rata-rata tahunan antara 2.138 mm - 3.693 mm.
Struktur tanah di daerah Maluku Utara menunjukkan sifat-sifat yang berbeda, mulai dari Morotai bagian utara sampai Sulabesi di selatan. Perbedaan ini disebabkan faktor iklim (curah hujan dan suhu) yang tinggi. Selain itu, yang membedakan sifat-sifat tanah adalah tipe batuan/bahan induk dan kemiringan lereng yang berkolerasi dengan kedalaman efektif perakaran serta vegetasi di tanah tempatnya berkembang.
Selain iklim dan vegetasi, geologi Provinsi Maluku Utara sangan erat hubungannya dengan penyebaran sifat-sifat tanah. Keadaan geologi dibarengi pula proses pelapukan dan pencucian pada kondisi suhu dan curah hujan yang bervariasi. Maka tanah di daerah Maluku Utara berada dalam suatu perkembangan dan kedalaman yang bervariasi dengan drainase baik, tekstur tanah halus, kesuburan yang relatif rendah.
Pada daerah-daerah perbukitan dan pegunungan yang berlereng curam sampai sangat curam dengan penutupan vegetasi yang jarang, secara relatif juga mempengaruhi erosi permukaan. Oleh karena itu sering ditemukan tanah-tanah dengan kedalaman solum dangkal sampai sedang dengan tingkat perkembangan lemah dan sedang.
Selain itu, Provinsi Maluku Utara memiliki beragam jenis flora dan fauna. Beberapa diantaranya tidak terdapat di bagian lain wilayah Indonesia, seperti cengkeh afa dan kelapa raja. Beberapa fauna merupakan endemik Maluku Utara seperti kakatua putih (Cacatua Alba), cendrawasih gagak (Lycocorax Pyrrhopterus), dan gagak Halmahera (Corvus Validus). Selain itu juga burung yang termasuk langka di dunia yakni burung bidadari (Semioptera Wallcei) yang terdapat di Pulau Halmahera. RACHMAN SAMIUN
Rubrik
investasi
Peluang Investasi dan Prospek Usaha
PELUANG investasi khusus perikanan di provinsi Maluku Utara cukup menjanjikan. Hingga kini, baru dua perusahaan perikanan yang berinvestasi di daerah seribu pulau ini yakni, PT Mina Samsuma di Pulau Makian dan PT Bayatri di Pulau Bacan. Keduanya berada di Kabupaten Halmahera Selatan.
Kedua perusahaan ini masih memfokuskan pada komoditas pelagis. Padahal komoditas dominan seperti cakalang baru sekitar 8,24%, don tuna baru mencapai 4,01 % belum dimanfaatkan, sehingga peluang usaha dan investasi masih sangat terbuka. Sementara ikan dasar; dari 40% potensi lestari saat ini baru dimanfaatkan 5,8%. Itupun dalam bentuk frozen.
Ikan kerapu; potensi yang sangat besar ditunjang oleh nelayan lokal yang cenderung untuk menangkap ikan kerapu dan menyebar seluruhnya di perairan Maluku Utara. Pelagis kecil; terutama ikan teri sangat tinggi prospeknya mengingat struktur alat tangkap yang ada. Alat tangkap bagan relatif banyak bila dibandingkan dengan alat tangkap lain. Di samping teri, juga masih ada layang, kembung dan julung-julung.
Begitu pula Hiu; pemanfaatan hanya pada sirip sedangkan dagingnya sebagai limbah. Hal ini merupakan peluang investasi yang berprospek. Ikan hias; potensi cukup besar karena provinsi ini merupakan provinsi kepulauan dengan dasar perairan terdiri dari karang yang merupakan habitat dari ikan hias. Namun pemasaran yang dilakukan masih terbatas di kalangan nelayan. Ini merupakan peluang usaha yang besar, apalagi potensinya merata di seluruh perairan Maluku Utara.
Sedangkan usaha non ikan (non fish), terdapat Crustacea; seperti kepiting bakau dan lobster terdapat pada perairan karang yang sangat dominan di perairan Maluku Utara. Usaha penangkapan cukup besar dengan jenis yang paling dominan yaitu lobster bambu, catik, mutiara serta lobster hitam.
Pengolahan hasil perikanan merupakan salah satu komoditas perikanan yang dihasilkan oleh masyarakat. Berdasarkan skala usaha dan daerah pemasaran pengolahan perikanan ada yang berskala rumah tangga atau skala kecil, skala menengah dan skala besar.
Perikanan pengolahan skala kecil di Provinsi Maluku Utara terdiri dari jenis olahan, seperti pengeringan, penggaraman, pengasapan, fermentasi, dan pemindangan. Pengolahan skala kecil memiliki sarana dan prasarana yang masih terbatas dengan standar sanitasi dan juga belum diuji secara organoleptik. Distribusi pemasaran terbatas pada pasar lokal dan sebagian kecil diantarpulaukan.
Hasil inventarisasi unit pengolahan skala kecil di Provinsi Maluku Utara berjumlah 53 unit tersebar di Kota Ternate 11 unit dengan 5 jenis olahan, Kabupaten Halmahera Barat 33 unit terdiri dari 8 jenis olahan, dan Kota Tidore Kepulauan 9 unit dengan 6 jenis olahan.
Pengolahan skala memiliki distribusi pemasaran yang cukup luas dan telah dikembangkan oleh pengusaha lokal maupun nasional dengan jenis usaha meliputi kegiatan pengeringan, penggaraman, dan pembekuan. Hingga tahun 2007 tercatat 9 perusahaan pengolahan di Provinsi Maluku Utara dan menghasilkan produk olahan yang didistribusikan ke Jakarta, Surabaya, Makassar, Gresik dan Manado. Jenis produknya antara lain teri kering, fillet ekor kuning dan ikan dasar, uburubur asin, cumi-cumi asin dan ikan asin.
Produksi pengolahan skala Besar di Provinsi Maluku Utara telah menggunakan teknologi pengolahan secara modern yang berorientasi ekspor. Sampai tahun 2007 terdapat 5 perusahaan skala besar yang menghasilkan 6 jenis olahan yang diekspor ke pasar tradisional di Jepang, Cina dan Hong Kong.
Produksi perikanan pengolahan skala modern itu diekspor oleh 6 perusahaan swasta dan 2 koperasi primer. Jumlahnya mencapai 12.648, 715 ton atau 72,84% dengan nilai produksi sebesar Rp. 585.956.450,- atau 96,79% dari total produksi perikanan pengolahan.
Beberapa catatan untuk usaha pengolahan ini adalah peluang usaha dari diversifikasi produk. Pemasaran ekspor masih dominan frozen, sedangkan produk diversifikasi seperti tuna blok, shasimi, tataki, lion cakalang dan filet masih sedikit yang diolah.
Ubur-ubur; potensi perairan yang menghasilkan ubur-ubur cukup besar, produksinya mencapai ± 50-60% dalam 1 (satu) musim, ubur-ubur ini dapat diproses menjadi produk siap ekspor. Pembuatan ekstrat rumput taut; dari jumlah produksi rumput laut 500 ton/tahun merupakan bahan baku untuk menunjang pembuatan ekstrat.
Pelagis besar yang terdapat di perairan Maluku Utara merupakan bagian dari Share Stock Local Pasific, yang meliputi jenis tuna (Thunis Spp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Sconberanorus Spp), cucut (Flasmobranch), layaran (Isthiophorus Spp), setuhuk (Xeplias Spp) dan lemadang (Coryphaena Spp).
Tingkat pemanfaatan pelagis besar, terutama komoditas dominan seperti cakalang 8,24% dan tuna baru mencapai 4,01% sehingga peluang usaha dan investasi masih sangat terbuka. Sedangkan untuk cucut hanya sirip yang dimanfaatkan sedangkan dagingnya belum dimanfaatkan.
Pelagis kecil merupakan jenis yang paling banyak tertangkap sebagaimana terlihat pada struktur alat tangkap yang digunakan nelayan pada perairan Maluku Utara. Pelagis kecil terdiri dari 16 spesies dan didominasi oleh 6 spesies besar seperti layang (Decapterius Spp), kembung (Pestrilugen Spp), teri (stalephorus Spp), lemum (Sardinela lemuru), selar (Selarodes Spp) dan julung-julung. Pemasaran pelagis kecil selama ini masih didominasi pada pasar lokal dan antarpulau. Dengan demikian masih terbuka peluang usaha untuk pasar nasional dan ekspor.
Perairan Maluku Utara dengan substrat lumpur berpasir dan mempunyai kawasan terumbu karang merupakan daerah penangkapan sumber daya demersal dan ikan karang yang potensial. Jenis-jenis seperti kakap merah (Prestoporoides), (Lethrinudae), ekor kuning, pisang-pisang (Coesionidae), baronang dan jenis-jenis kerapu seperti kerapu sunu (Plectoponus), napolleon wrase, kerapu bebek (Cromileptus Altivelis).
Perairan Maluku Utara merupakan daerah terkaya akan jenis-jenis ikan hias laut. Tak kurang 166 jenis ikan hias. Adapun jenis-jenis yang dominan adalah Parnacartidae (angel fish), jenis Zantidae (ikan bendera), jenis Scorpaenidae (ikan lepu), jenis Labridae, jenis Chaetoddutidae (ikan kape-kape).
Disamping non ikan (Non Fish) yang meliputi Rumput Laut. Perairan Maluku Utara sangat potensial untuk budidaya rumput taut. Luas areal budidaya ini mencapai ± 500 Ha. Potensi yang baru dimanfaatkan sebesar 500 ton/tahun. Olahan rumput laut merupakan bahan-bahan pembuat ekstrat, sehingga peluang investasi pembuatan ekstrat sangat terbuka.
Disamping itu, rumput laut, teripang merupakan salah satu komoditas non fish di Maluku Utara yang bernilai ekspor. Diperkirakan ada sekitar 5 jenis teripang, yang banyak ditemui terutama jenis Holothurea dan Thelonela Stichopus.
Sesuai dengan habitat dan daerah penyebarannya hampir seluruh perairan Maluku Utara terdapat jenis-jenis teripang bernilai ekonomis penting. Saat ini teripang hanya diolah nelayan secara sederhana dengan pasaran masih bersifat lokal. Jenis teripang yang banyak ditangkap adalah teripang susu, teripang joko, teripang kapak, dan cepatu.
Selain itu, jenis kerang yang tersebar di perairan Maluku Utara antara lain tiram, simping, remis, kima, triton, batu laga dan lain-lain. Khusus untuk mutiara, potensi perairan yang dikembangkan adalah perairan Pulau Bacan, perairan Obi dan Teluk Kao.
Peluang yang lain adalah cumi-cumi, yang ditangkap umumnya adalah jenis cumi pena/jarum (Urotheulis boathschi) dan cumi-cumi botol. Pemasaran untuk komoditas ini masih bersifat lokal atau antarpulau (interinsuler). Produksi cumi-cumi diperkirakan mencapai 30 ton/bulan.
Selain cumi-cumi, Kepiting juga tersebar pada beberapa wilayah di antaranya sekitar perairan Pulau Gebe, Kecamatan Patani. Di wilayah ini terdapat jenis kepiting kelapa atau yang biasa disebut ketam kenari. Jenis kepiting laut rajungan tersebar pada beberapa daerah Pesisir Halmahera bagian selatan. Kepiting bakau terdapat pada hampir sebagian bakau yang tersebar di pesisir Halmahera.
Jumlah produksi untuk komoditas ini diperkirakan antara 10 sampai 50 ton per bulan, namun sampai saat ini belum ada perusahaan/investor yang menangani masalah pemasaran, baik nasional maupun global, sehingga jenis komoditas ini hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal.
Disamping kepiting, Lobster juga banyak ditemukan di perairan Morotai, Bacan, Sula dan Loloda. Jenis lobster yang terdapat di wilayah tersebut adalah jenis-jenis seperti lobster bambu, batik dan mutiara. Produksi lobster diperkirakan berkisar antara 10-30 ton/bulan. Umumnya dipasarkan untuk antarpulau seperti ke Manado (Sulawesi Utara), dan Makassar (Sulawesi Selatan).
Sementara untuk produk olahan yang ada adalah ikan kayu, tataki (cakalang), blok tuna, sashimi dan ikan asin. Hingga kini belum ada perusahaan yang mengelola produk olahan ini. Produk olahan lainnya yang prospektif antara lain ikan asin. Saat ini oleh beberapa pengolah telah dibuat dalam kemasan yang siap dipasarkan. Namun karena masalah jaringan pemasaran yang terbatas, pengolah-pengolah tersebut masih mencari mitra terutama untuk pasaran ke luar daerah.
Ubur-ubur atau yang lebih dikenal dengan jelly fish terdapat pada perairan Teluk Kao dan Bacan. Untuk komoditas ubur-ubur, produksi yang dapat dihasilkan diperkirakan berkisar antara 500 sampai 700 ton/bulan. Terdapat beberapa jenis ubur-ubur seperti jenis putih dan merah. Kebanyakan komoditas ini diolah oleh nelayan lokal untuk dipasarkan ke luar daerah seperti Jakarta. RACHMAN
Kedua perusahaan ini masih memfokuskan pada komoditas pelagis. Padahal komoditas dominan seperti cakalang baru sekitar 8,24%, don tuna baru mencapai 4,01 % belum dimanfaatkan, sehingga peluang usaha dan investasi masih sangat terbuka. Sementara ikan dasar; dari 40% potensi lestari saat ini baru dimanfaatkan 5,8%. Itupun dalam bentuk frozen.
Ikan kerapu; potensi yang sangat besar ditunjang oleh nelayan lokal yang cenderung untuk menangkap ikan kerapu dan menyebar seluruhnya di perairan Maluku Utara. Pelagis kecil; terutama ikan teri sangat tinggi prospeknya mengingat struktur alat tangkap yang ada. Alat tangkap bagan relatif banyak bila dibandingkan dengan alat tangkap lain. Di samping teri, juga masih ada layang, kembung dan julung-julung.
Begitu pula Hiu; pemanfaatan hanya pada sirip sedangkan dagingnya sebagai limbah. Hal ini merupakan peluang investasi yang berprospek. Ikan hias; potensi cukup besar karena provinsi ini merupakan provinsi kepulauan dengan dasar perairan terdiri dari karang yang merupakan habitat dari ikan hias. Namun pemasaran yang dilakukan masih terbatas di kalangan nelayan. Ini merupakan peluang usaha yang besar, apalagi potensinya merata di seluruh perairan Maluku Utara.
Sedangkan usaha non ikan (non fish), terdapat Crustacea; seperti kepiting bakau dan lobster terdapat pada perairan karang yang sangat dominan di perairan Maluku Utara. Usaha penangkapan cukup besar dengan jenis yang paling dominan yaitu lobster bambu, catik, mutiara serta lobster hitam.
Pengolahan hasil perikanan merupakan salah satu komoditas perikanan yang dihasilkan oleh masyarakat. Berdasarkan skala usaha dan daerah pemasaran pengolahan perikanan ada yang berskala rumah tangga atau skala kecil, skala menengah dan skala besar.
Perikanan pengolahan skala kecil di Provinsi Maluku Utara terdiri dari jenis olahan, seperti pengeringan, penggaraman, pengasapan, fermentasi, dan pemindangan. Pengolahan skala kecil memiliki sarana dan prasarana yang masih terbatas dengan standar sanitasi dan juga belum diuji secara organoleptik. Distribusi pemasaran terbatas pada pasar lokal dan sebagian kecil diantarpulaukan.
Hasil inventarisasi unit pengolahan skala kecil di Provinsi Maluku Utara berjumlah 53 unit tersebar di Kota Ternate 11 unit dengan 5 jenis olahan, Kabupaten Halmahera Barat 33 unit terdiri dari 8 jenis olahan, dan Kota Tidore Kepulauan 9 unit dengan 6 jenis olahan.
Pengolahan skala memiliki distribusi pemasaran yang cukup luas dan telah dikembangkan oleh pengusaha lokal maupun nasional dengan jenis usaha meliputi kegiatan pengeringan, penggaraman, dan pembekuan. Hingga tahun 2007 tercatat 9 perusahaan pengolahan di Provinsi Maluku Utara dan menghasilkan produk olahan yang didistribusikan ke Jakarta, Surabaya, Makassar, Gresik dan Manado. Jenis produknya antara lain teri kering, fillet ekor kuning dan ikan dasar, uburubur asin, cumi-cumi asin dan ikan asin.
Produksi pengolahan skala Besar di Provinsi Maluku Utara telah menggunakan teknologi pengolahan secara modern yang berorientasi ekspor. Sampai tahun 2007 terdapat 5 perusahaan skala besar yang menghasilkan 6 jenis olahan yang diekspor ke pasar tradisional di Jepang, Cina dan Hong Kong.
Produksi perikanan pengolahan skala modern itu diekspor oleh 6 perusahaan swasta dan 2 koperasi primer. Jumlahnya mencapai 12.648, 715 ton atau 72,84% dengan nilai produksi sebesar Rp. 585.956.450,- atau 96,79% dari total produksi perikanan pengolahan.
Beberapa catatan untuk usaha pengolahan ini adalah peluang usaha dari diversifikasi produk. Pemasaran ekspor masih dominan frozen, sedangkan produk diversifikasi seperti tuna blok, shasimi, tataki, lion cakalang dan filet masih sedikit yang diolah.
Ubur-ubur; potensi perairan yang menghasilkan ubur-ubur cukup besar, produksinya mencapai ± 50-60% dalam 1 (satu) musim, ubur-ubur ini dapat diproses menjadi produk siap ekspor. Pembuatan ekstrat rumput taut; dari jumlah produksi rumput laut 500 ton/tahun merupakan bahan baku untuk menunjang pembuatan ekstrat.
Pelagis besar yang terdapat di perairan Maluku Utara merupakan bagian dari Share Stock Local Pasific, yang meliputi jenis tuna (Thunis Spp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tenggiri (Sconberanorus Spp), cucut (Flasmobranch), layaran (Isthiophorus Spp), setuhuk (Xeplias Spp) dan lemadang (Coryphaena Spp).
Tingkat pemanfaatan pelagis besar, terutama komoditas dominan seperti cakalang 8,24% dan tuna baru mencapai 4,01% sehingga peluang usaha dan investasi masih sangat terbuka. Sedangkan untuk cucut hanya sirip yang dimanfaatkan sedangkan dagingnya belum dimanfaatkan.
Pelagis kecil merupakan jenis yang paling banyak tertangkap sebagaimana terlihat pada struktur alat tangkap yang digunakan nelayan pada perairan Maluku Utara. Pelagis kecil terdiri dari 16 spesies dan didominasi oleh 6 spesies besar seperti layang (Decapterius Spp), kembung (Pestrilugen Spp), teri (stalephorus Spp), lemum (Sardinela lemuru), selar (Selarodes Spp) dan julung-julung. Pemasaran pelagis kecil selama ini masih didominasi pada pasar lokal dan antarpulau. Dengan demikian masih terbuka peluang usaha untuk pasar nasional dan ekspor.
Perairan Maluku Utara dengan substrat lumpur berpasir dan mempunyai kawasan terumbu karang merupakan daerah penangkapan sumber daya demersal dan ikan karang yang potensial. Jenis-jenis seperti kakap merah (Prestoporoides), (Lethrinudae), ekor kuning, pisang-pisang (Coesionidae), baronang dan jenis-jenis kerapu seperti kerapu sunu (Plectoponus), napolleon wrase, kerapu bebek (Cromileptus Altivelis).
Perairan Maluku Utara merupakan daerah terkaya akan jenis-jenis ikan hias laut. Tak kurang 166 jenis ikan hias. Adapun jenis-jenis yang dominan adalah Parnacartidae (angel fish), jenis Zantidae (ikan bendera), jenis Scorpaenidae (ikan lepu), jenis Labridae, jenis Chaetoddutidae (ikan kape-kape).
Disamping non ikan (Non Fish) yang meliputi Rumput Laut. Perairan Maluku Utara sangat potensial untuk budidaya rumput taut. Luas areal budidaya ini mencapai ± 500 Ha. Potensi yang baru dimanfaatkan sebesar 500 ton/tahun. Olahan rumput laut merupakan bahan-bahan pembuat ekstrat, sehingga peluang investasi pembuatan ekstrat sangat terbuka.
Disamping itu, rumput laut, teripang merupakan salah satu komoditas non fish di Maluku Utara yang bernilai ekspor. Diperkirakan ada sekitar 5 jenis teripang, yang banyak ditemui terutama jenis Holothurea dan Thelonela Stichopus.
Sesuai dengan habitat dan daerah penyebarannya hampir seluruh perairan Maluku Utara terdapat jenis-jenis teripang bernilai ekonomis penting. Saat ini teripang hanya diolah nelayan secara sederhana dengan pasaran masih bersifat lokal. Jenis teripang yang banyak ditangkap adalah teripang susu, teripang joko, teripang kapak, dan cepatu.
Selain itu, jenis kerang yang tersebar di perairan Maluku Utara antara lain tiram, simping, remis, kima, triton, batu laga dan lain-lain. Khusus untuk mutiara, potensi perairan yang dikembangkan adalah perairan Pulau Bacan, perairan Obi dan Teluk Kao.
Peluang yang lain adalah cumi-cumi, yang ditangkap umumnya adalah jenis cumi pena/jarum (Urotheulis boathschi) dan cumi-cumi botol. Pemasaran untuk komoditas ini masih bersifat lokal atau antarpulau (interinsuler). Produksi cumi-cumi diperkirakan mencapai 30 ton/bulan.
Selain cumi-cumi, Kepiting juga tersebar pada beberapa wilayah di antaranya sekitar perairan Pulau Gebe, Kecamatan Patani. Di wilayah ini terdapat jenis kepiting kelapa atau yang biasa disebut ketam kenari. Jenis kepiting laut rajungan tersebar pada beberapa daerah Pesisir Halmahera bagian selatan. Kepiting bakau terdapat pada hampir sebagian bakau yang tersebar di pesisir Halmahera.
Jumlah produksi untuk komoditas ini diperkirakan antara 10 sampai 50 ton per bulan, namun sampai saat ini belum ada perusahaan/investor yang menangani masalah pemasaran, baik nasional maupun global, sehingga jenis komoditas ini hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal.
Disamping kepiting, Lobster juga banyak ditemukan di perairan Morotai, Bacan, Sula dan Loloda. Jenis lobster yang terdapat di wilayah tersebut adalah jenis-jenis seperti lobster bambu, batik dan mutiara. Produksi lobster diperkirakan berkisar antara 10-30 ton/bulan. Umumnya dipasarkan untuk antarpulau seperti ke Manado (Sulawesi Utara), dan Makassar (Sulawesi Selatan).
Sementara untuk produk olahan yang ada adalah ikan kayu, tataki (cakalang), blok tuna, sashimi dan ikan asin. Hingga kini belum ada perusahaan yang mengelola produk olahan ini. Produk olahan lainnya yang prospektif antara lain ikan asin. Saat ini oleh beberapa pengolah telah dibuat dalam kemasan yang siap dipasarkan. Namun karena masalah jaringan pemasaran yang terbatas, pengolah-pengolah tersebut masih mencari mitra terutama untuk pasaran ke luar daerah.
Ubur-ubur atau yang lebih dikenal dengan jelly fish terdapat pada perairan Teluk Kao dan Bacan. Untuk komoditas ubur-ubur, produksi yang dapat dihasilkan diperkirakan berkisar antara 500 sampai 700 ton/bulan. Terdapat beberapa jenis ubur-ubur seperti jenis putih dan merah. Kebanyakan komoditas ini diolah oleh nelayan lokal untuk dipasarkan ke luar daerah seperti Jakarta. RACHMAN
Rubrik
investasi
Potensi Sumber Ekonomi Maluku Utara
POTENSI sumber ekonomi Maluku Utara luar biasa, mencakup sumber daya perikanan, sumber daya lahan dan hutan, sumber daya mineral dan energi, sumber daya pertanian dan tanaman holtikultura, serta potensi wisata dan budaya.
Potensi lestari perikanan Maluku Utara mencapai 239.191,25 ton/tahun dari outstanding stock yang dimiliki sebesar 478.382,50 ton/tahun. Potensi ini terdiri dari ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang, tongkol, cucut, tenggiri dan pelagis kecil seperti teri, kembung, layang dan jenis-jenis selar. Ikan demersal seperti kakap merah, lencam, ekor kuning, gulama, gerot-gerot, kerapu dan potensi nonikan seperti cumi-cumi, teripang, lobster kepiting, rumput taut, ubur-ubur/jelly fish dan mutiara.
Hingga kini, produksi baru mencapai 56.849,65 ton/tahun, tingkat pemanfaatan baru mencapai 23,8% dari potensi lestari. Pada 2006 tingkat pemanfaatan mencapai 83.758,64 ton atau 34,58% dari potensi yang dapat dimanfaatkan--masih under exploitation, sehingga peluang investasi perikanan dan kelautan di Provinsi Maluku Utara masih sangat terbuka.
Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang akan menjadi salah satu prime mover karena kontribusinya cukup besar, yaitu 83.758,64 ton atau 86,44% dibandingkan perikanan budidaya dan pengolahan. Kegiatan perikanan tangkap menghasilkan berbagai jenis hasil tangkapan berupa ikan konsumsi bernilai ekonomis tinggi, diantaranya ikan pelagis besar seperti cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna (Thunnus spp), tongkol (Euthynnus spp), dan jenis-jenis ikan pelagis kecil seperti kembung (Rastralliger), layang (Decapterus), tembang (Sardinella spp), dan selar (Selaroides spp)
Hasil identifikasi jenis-jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan di sekitar perairan pantai terdapat sekitar 98 jenis ikan, 74 di antaranya bernilai ekonomis penting, 20 jenis telah dikomersialkan, termasuk di dalamnya cumi-cumi (Loligo spp), teri (Stelephorus spp) dan nener bandeng, serta 12 jenis ikan hias ekosistem terumbu karang.
Disamping luasnya kawasan pesisir dan laut dengan kualitas perairan memungkinkan pengembangan budidaya laut, terutama kerapu, lobster, rumput laut dan mutiara. Selain itu, pada beberapa kawasan tersedia suplai air tawar yang berkualitas sehingga cocok untuk pengembangan Budidaya payau. Bahkan beberapa kawasan memiliki sumber air tawar yang berkualitas menjadi alternatif bagi pengembangan budidaya air tawar (kolam). Hingga tahun 2006, volume produksi Budidaya baru mencapai 20,43 ton atau 0,02% dengan nilai sebesar Rp 833,18 milyar atau 0,03% dari total volume dan nilai produksi.
Begitu pula luas hutan bakau di Provinsi Maluku Utara diperkirakan mencapai 20.000 hektar. Dari penyebaran luasan tersebut dapat dikonversi untuk dijadikan lahan usaha budidaya tambak sebesar 40-50%. Sampai saat ini kegiatan usaha Budidaya tambak yang dikelola masyarakat/pengusaha baru mencapai 10%. Dengan demikian peluang di bidang ini masih sangat terbuka.
Luas perairan potensial budidaya rumput mencapai ± 5.000 Ha dan baru dimanfaatkan petani sebesar 0,05% dari potensi perairan. Sampai saat ini jumlah produksi yang dicapai sebesar 500 ton/tahun dan merupakan bahan baku pembuatan ekstrak. Peluang investasi pembuatan ekstrak ini masih sangat terbuka karena belum ada kompetitor.
Begitu pulau potensi perairan untuk pengembangan Budidaya mutiara cukup besar, hanya saja pemanfaatan dan investasi di bidang ini masih sangat kecil. Dengan demikian masih sangat terbuka peluang investasi,
Hingga kini jenis-jenis ikan yang dapat dibudidayakan adalah jenis kakap merah, kerapu --baik kerapu bebek maupun kerapu campuran, baronang dan samandar. Luas potensi perikanan yang dapat dikembangkan untuk Budidaya ikan ini diperkirakan ± 10.000 hektar. Sementara potensi budidaya air tawar yang telah dikembangkan adalah ikan mas dan nila.
Khusus daerah penangkapan untuk pelagis besar (tuna dan cakalang) di perairan Maluku Utara adalah meliputi Ternate dengan daerah penangkapan meliputi perairan Pulau Hiri, Laut Maluku. Tidore meliputi perairan Halmahera Tengah, Pulau Makian dan perairan Tidore bagian selatan. Bacan meliputi perairan Selat Obi dan Laut Maluku. Sanana daerah penangkapan meliputi perairan Sula dan Laut Seram. Buli, daerah penangkapan meliputi perairan Laut Halmahera, serta Morotai, daerah penangkapan meliputi perairan Pasifik Selatan dan Laut Halmahera.
Musim penangkapan pelagis besar dilakukan sepanjang tahun dengan musim puncak untuk daerah penangkapan Ternate, Tidore : Januari - April dan September – Oktober, Bacan, Februari - Mei dan September - Oktober, Sula : Februari - April dan September – Desember, Morotai Januari - April dan September – November.
Sedangkan daerah penangkapan untuk pelagis kecil dan demersal di perairan Maluku Utara meliputi Teluk Kao untuk kembung, teri dan bambangan, Gane Barat dan Timur, kakap merah, kerapu, bambangan, biji nangka, Bacan meliputi kakap merah, kerapu, bambangan, swanggi, lencang, golama dan laying, Morotai, kerapu, kakap, bambangan, kue dan kembung. Kayoa, ikan layang dan ekor kuning. Loloda, kakap merah, bambangan, kembung. Wasilei : teri, julung dan kembung dan Buli/Patani kakap, lencang, cucut, dan layang.
Musim penangkapan untuk pelagis kecil dan demersal dilakukan sepanjang tahun, sedangkan daerah penangkapan untuk non fish meliputi daerah Kepulauan Sula dan Taliabu : angel fish (Pomachantidae), kepe-kepa morishidol (Zanctidae), bendera, trigger fish (Skordaenidae). Morotai dan Loloda : angel fish, morishidol, trigger fish, Bacan, Gane, Obi dan Kayoa : angelfish, morishidol, trigger fish, Buli dan Patani : angel fish, morishidol, dan trigger fish
Sampai dengan 2006, unit armada penangkapan yang beroperasi di wilayah Provinsi Maluku Utara sebanyak 1.924 unit --terdiri dari motor tempel 612 unit, kapal motor 98 unit, dan perahu tanpa motor sebanyak 1.214 unit. Secara umum alat tangkap yang dioperasikan di wilayah Perairan Maluku Utara dikategorikan dalam 7 jenis. Hingga tahun 2006 jumlat alat tangkap mencapai 16.978 unit.
Sementara prasarana budidaya dikembangkan dalam rangka meningkatkan produksi budidaya perikanan, yaitu budidaya laut, tambak dan kolam. Hingga tahun 2006 prasarana budidaya yang telah dikembangkan di Provinsi Maluku Utara 4.170,98 Ha.
Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang terdapat di Provinsi Maluku Utara sebanyak 2 PPI, yakni PPI Bacan dan PPI Tobelo. Pusat pendaratan ikan ini telah memiliki prasarana pokok, fungsional dan penunjang. Hingga tahun 2006 produksi perikanan dan kelautan Provinsi Maluku Utara sebesar 96.912.645 ton dengan nilai mencapai Rp. 5.461.007,44,-Dari total volume dan nilai produksi ini dihasilkan oleh kegiatan perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan.
Produk perikanan yang dihasilkan di Provinsi Maluku Utara diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal maupun kebutuhan bahan baku industri pengalengan (canning) pada beberapa provinsi di luar Maluku Utara dalam bentuk perdagangan antarpulau/interinsuler, tetapi yang sangat dominan adalah pasar ekspor dengan Negara tujuan Jepang, Singapura, Korea, Perancis, dan Hongkong.
Hingga tahun 2006 pemasaran intersinsuler terdiri dari 13 jenis komoditas dengan total volume produksi sebesar 118.554 ton dengan nilai Rp. 442.500.000. Sektor perikanan merupakan sektor yang strategis dalam menarik investor. Menyadari hal ini, Pemerintah Daerah pun mendukung tumbuh kembangnya investasi sektor ini. Hal itu diwujudkan baik melalui produk hukum maupun perencanaan pembangunan.
Pada produk hukum Pemda tersebut dengan menyiapkan Perda yang berhubungan dengan kemudahan Perizinan Pengusahaan Perikanan, Pengujian Mufu Hasil Perikanan, Pelelangan dan Antarpulau, Penggunaan Jasa PPI serta ekspor
Produk hukum tersebut dalam rangka memberikan kepastian hukum dan kepastian berusaha bagi para investor yang telah menanam investasi di daerah ini. Kebijakan pemerintah di bidang perizinan dapat ditempuh dengan 5 (lima) hari kerja, yang dibagi menjadi 3 (figa) hari kerja untuk meneliti administrasi kelengkapan dan persyaratan dan 2 (dua) hari kerja untuk memproses Surat Izin Usaha dengan mekanisme maupun prosedur yang sangat sederhana, mudah dan cepat.
Prasarana pendukung pun ditingkatkan. Misalnya Pusat Pendaratan Ikan (PPI) dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) dilengkapi dengan cold storage serta lahan kosong yang siap disewakan kepada calon investor. RACHMAN SAMIUN
Potensi lestari perikanan Maluku Utara mencapai 239.191,25 ton/tahun dari outstanding stock yang dimiliki sebesar 478.382,50 ton/tahun. Potensi ini terdiri dari ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang, tongkol, cucut, tenggiri dan pelagis kecil seperti teri, kembung, layang dan jenis-jenis selar. Ikan demersal seperti kakap merah, lencam, ekor kuning, gulama, gerot-gerot, kerapu dan potensi nonikan seperti cumi-cumi, teripang, lobster kepiting, rumput taut, ubur-ubur/jelly fish dan mutiara.
Hingga kini, produksi baru mencapai 56.849,65 ton/tahun, tingkat pemanfaatan baru mencapai 23,8% dari potensi lestari. Pada 2006 tingkat pemanfaatan mencapai 83.758,64 ton atau 34,58% dari potensi yang dapat dimanfaatkan--masih under exploitation, sehingga peluang investasi perikanan dan kelautan di Provinsi Maluku Utara masih sangat terbuka.
Perikanan tangkap merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang akan menjadi salah satu prime mover karena kontribusinya cukup besar, yaitu 83.758,64 ton atau 86,44% dibandingkan perikanan budidaya dan pengolahan. Kegiatan perikanan tangkap menghasilkan berbagai jenis hasil tangkapan berupa ikan konsumsi bernilai ekonomis tinggi, diantaranya ikan pelagis besar seperti cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna (Thunnus spp), tongkol (Euthynnus spp), dan jenis-jenis ikan pelagis kecil seperti kembung (Rastralliger), layang (Decapterus), tembang (Sardinella spp), dan selar (Selaroides spp)
Hasil identifikasi jenis-jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan di sekitar perairan pantai terdapat sekitar 98 jenis ikan, 74 di antaranya bernilai ekonomis penting, 20 jenis telah dikomersialkan, termasuk di dalamnya cumi-cumi (Loligo spp), teri (Stelephorus spp) dan nener bandeng, serta 12 jenis ikan hias ekosistem terumbu karang.
Disamping luasnya kawasan pesisir dan laut dengan kualitas perairan memungkinkan pengembangan budidaya laut, terutama kerapu, lobster, rumput laut dan mutiara. Selain itu, pada beberapa kawasan tersedia suplai air tawar yang berkualitas sehingga cocok untuk pengembangan Budidaya payau. Bahkan beberapa kawasan memiliki sumber air tawar yang berkualitas menjadi alternatif bagi pengembangan budidaya air tawar (kolam). Hingga tahun 2006, volume produksi Budidaya baru mencapai 20,43 ton atau 0,02% dengan nilai sebesar Rp 833,18 milyar atau 0,03% dari total volume dan nilai produksi.
Begitu pula luas hutan bakau di Provinsi Maluku Utara diperkirakan mencapai 20.000 hektar. Dari penyebaran luasan tersebut dapat dikonversi untuk dijadikan lahan usaha budidaya tambak sebesar 40-50%. Sampai saat ini kegiatan usaha Budidaya tambak yang dikelola masyarakat/pengusaha baru mencapai 10%. Dengan demikian peluang di bidang ini masih sangat terbuka.
Luas perairan potensial budidaya rumput mencapai ± 5.000 Ha dan baru dimanfaatkan petani sebesar 0,05% dari potensi perairan. Sampai saat ini jumlah produksi yang dicapai sebesar 500 ton/tahun dan merupakan bahan baku pembuatan ekstrak. Peluang investasi pembuatan ekstrak ini masih sangat terbuka karena belum ada kompetitor.
Begitu pulau potensi perairan untuk pengembangan Budidaya mutiara cukup besar, hanya saja pemanfaatan dan investasi di bidang ini masih sangat kecil. Dengan demikian masih sangat terbuka peluang investasi,
Hingga kini jenis-jenis ikan yang dapat dibudidayakan adalah jenis kakap merah, kerapu --baik kerapu bebek maupun kerapu campuran, baronang dan samandar. Luas potensi perikanan yang dapat dikembangkan untuk Budidaya ikan ini diperkirakan ± 10.000 hektar. Sementara potensi budidaya air tawar yang telah dikembangkan adalah ikan mas dan nila.
Khusus daerah penangkapan untuk pelagis besar (tuna dan cakalang) di perairan Maluku Utara adalah meliputi Ternate dengan daerah penangkapan meliputi perairan Pulau Hiri, Laut Maluku. Tidore meliputi perairan Halmahera Tengah, Pulau Makian dan perairan Tidore bagian selatan. Bacan meliputi perairan Selat Obi dan Laut Maluku. Sanana daerah penangkapan meliputi perairan Sula dan Laut Seram. Buli, daerah penangkapan meliputi perairan Laut Halmahera, serta Morotai, daerah penangkapan meliputi perairan Pasifik Selatan dan Laut Halmahera.
Musim penangkapan pelagis besar dilakukan sepanjang tahun dengan musim puncak untuk daerah penangkapan Ternate, Tidore : Januari - April dan September – Oktober, Bacan, Februari - Mei dan September - Oktober, Sula : Februari - April dan September – Desember, Morotai Januari - April dan September – November.
Sedangkan daerah penangkapan untuk pelagis kecil dan demersal di perairan Maluku Utara meliputi Teluk Kao untuk kembung, teri dan bambangan, Gane Barat dan Timur, kakap merah, kerapu, bambangan, biji nangka, Bacan meliputi kakap merah, kerapu, bambangan, swanggi, lencang, golama dan laying, Morotai, kerapu, kakap, bambangan, kue dan kembung. Kayoa, ikan layang dan ekor kuning. Loloda, kakap merah, bambangan, kembung. Wasilei : teri, julung dan kembung dan Buli/Patani kakap, lencang, cucut, dan layang.
Musim penangkapan untuk pelagis kecil dan demersal dilakukan sepanjang tahun, sedangkan daerah penangkapan untuk non fish meliputi daerah Kepulauan Sula dan Taliabu : angel fish (Pomachantidae), kepe-kepa morishidol (Zanctidae), bendera, trigger fish (Skordaenidae). Morotai dan Loloda : angel fish, morishidol, trigger fish, Bacan, Gane, Obi dan Kayoa : angelfish, morishidol, trigger fish, Buli dan Patani : angel fish, morishidol, dan trigger fish
Sampai dengan 2006, unit armada penangkapan yang beroperasi di wilayah Provinsi Maluku Utara sebanyak 1.924 unit --terdiri dari motor tempel 612 unit, kapal motor 98 unit, dan perahu tanpa motor sebanyak 1.214 unit. Secara umum alat tangkap yang dioperasikan di wilayah Perairan Maluku Utara dikategorikan dalam 7 jenis. Hingga tahun 2006 jumlat alat tangkap mencapai 16.978 unit.
Sementara prasarana budidaya dikembangkan dalam rangka meningkatkan produksi budidaya perikanan, yaitu budidaya laut, tambak dan kolam. Hingga tahun 2006 prasarana budidaya yang telah dikembangkan di Provinsi Maluku Utara 4.170,98 Ha.
Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang terdapat di Provinsi Maluku Utara sebanyak 2 PPI, yakni PPI Bacan dan PPI Tobelo. Pusat pendaratan ikan ini telah memiliki prasarana pokok, fungsional dan penunjang. Hingga tahun 2006 produksi perikanan dan kelautan Provinsi Maluku Utara sebesar 96.912.645 ton dengan nilai mencapai Rp. 5.461.007,44,-Dari total volume dan nilai produksi ini dihasilkan oleh kegiatan perikanan tangkap, budidaya dan pengolahan.
Produk perikanan yang dihasilkan di Provinsi Maluku Utara diperdagangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal maupun kebutuhan bahan baku industri pengalengan (canning) pada beberapa provinsi di luar Maluku Utara dalam bentuk perdagangan antarpulau/interinsuler, tetapi yang sangat dominan adalah pasar ekspor dengan Negara tujuan Jepang, Singapura, Korea, Perancis, dan Hongkong.
Hingga tahun 2006 pemasaran intersinsuler terdiri dari 13 jenis komoditas dengan total volume produksi sebesar 118.554 ton dengan nilai Rp. 442.500.000. Sektor perikanan merupakan sektor yang strategis dalam menarik investor. Menyadari hal ini, Pemerintah Daerah pun mendukung tumbuh kembangnya investasi sektor ini. Hal itu diwujudkan baik melalui produk hukum maupun perencanaan pembangunan.
Pada produk hukum Pemda tersebut dengan menyiapkan Perda yang berhubungan dengan kemudahan Perizinan Pengusahaan Perikanan, Pengujian Mufu Hasil Perikanan, Pelelangan dan Antarpulau, Penggunaan Jasa PPI serta ekspor
Produk hukum tersebut dalam rangka memberikan kepastian hukum dan kepastian berusaha bagi para investor yang telah menanam investasi di daerah ini. Kebijakan pemerintah di bidang perizinan dapat ditempuh dengan 5 (lima) hari kerja, yang dibagi menjadi 3 (figa) hari kerja untuk meneliti administrasi kelengkapan dan persyaratan dan 2 (dua) hari kerja untuk memproses Surat Izin Usaha dengan mekanisme maupun prosedur yang sangat sederhana, mudah dan cepat.
Prasarana pendukung pun ditingkatkan. Misalnya Pusat Pendaratan Ikan (PPI) dan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) dilengkapi dengan cold storage serta lahan kosong yang siap disewakan kepada calon investor. RACHMAN SAMIUN
Rubrik
investasi
Langganan:
Postingan (Atom)